Shalawat munjiyat adalah shalawat yang ditulis oleh ulama sufi dari
tariqat Asy-Syadziliyah yaitu Syaikh Shalih Musa Al-Dharir. Kisah
mendapatkan/terciptanya shalawat munjiyat ini adalah sebagai berikut:
عن الشيخ الصالح موسى الضرير رحمه الله، قال : ركبت البحر الملح وقامت
علينا ريح قل من ينجو منها من الغرق وضج الناسفغلبتني عيني فنمت فرايت الني
صلى الله عليه وسلم وهو يقول : قل لأهل المركب يقولوا ألف مرة { اللهم صل
على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد صلاة تنجينا بها من جميع الأهوال
والآفات وتقضي لنا بها جميع الحاجات ... االخ } فاستيقطت وأعلمت أهل المركب
بالرؤيا فصلينا بها ثلثمائة مرة ففرج الله عنا
وللعلم انا جربتها في احدات ثورة 17 فبراير المجيدة وصليت بيها في حدود
200 مرة والحمد لله ربي تقبل مني ونجانا من طغيان ومكر الي مايتسمى هو
واعوانه فأكثرو اخوتي منها حتى ينجينا الله من كل كرب وبلاء
Dari Syekh Sholeh Musa Al-Dhorir ia berkata: Aku menaiki perahu di
lautan lalu kami diserang angin yang besar sehingga sedikit dari kami
yang selamat dari karam. Aku merasa sangat ngantuk dan tertidur, lalu
aku bermimpi bertemu Nabi beliau bersabda: Katakan pada para penumpang
perahu untuk mengucapkan ini 1000 (seribu) kali
[اللهم صل على سيدنا محمد
وعلى آل سيدنا محمد صلاة تنجينا بها من جميع الأهوال والآفات ..
dst] lalu
aku terbangun dan mengajarkan bacaan tersebut pada seluruh penumpang
kapal. Lalu kami membaca shalawat itu 300 kali lalu Allah menyelamatkan
kami.
Shalawat al-Munjiyah
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ . صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاَهْوَالِ
وَاْلآفَاتِ . وَتَقْضِىْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ .
وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ . وَتَرْفَعُنَا بِهَا
عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ . وَتُبَلِّغُنَا بِهَا اَقْصَى الْغَايَاتِ
مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ .
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat (rahmat) atas penghulu kami
Nabi Muhammad dan keluarga beliau, semoga dengan berkah shalawat itu
Engkau lepaskan kami dari segala bencana dan musibah, Engkau tunaikan
segala hajat kami, Engkau bersihkan kami dari segala kejahatan dan
Engkau tingkatkan derajat kami di sisi Engkau, Engkau sampaikan tujuan
maksimal kami dari semua kebaikan kehidupan kami baik di dunia maupun
sesudah wafat.”
Diantara shalawat yang mujarrab untuk mendatangkan manfaat dan menolak
mushibah adalah shalawat al-Munjiyat. Shalawat ini dinisbahkan kepada
seorang ulama besar yang bernama Syaikh al-Shalih Musa al-Dharir. Imam
al-Samhudiy mengatakan dalam kitabnyaJawahir al-Iqdain Fi Fadhl
al-Sarafain, “Siapa saja yang menginginkan selamat dari Thaun (wabah),
maka hendaknya ia memperbanyak membaca shalawat al-Munjiyah.
Syaikh Ahmad al-Shawiy al-Malikiy menamakan shalawat ini dengan nama
shalawat al-Munajah (permohonan) dan shalawat Tafrij al-Kurub
(menghempas kesulitan).
Biografi Syaikh Musa al-Dharir
Dari berbagai sumber yang penulis miliki tidak ditemukan catatan
mengenai tahun kelahiran dan wafat beliau, meski diketahui qurun (masa)
beliau hidup. Syaikh Musa al-Dharir adalah seorang ulama besar yang
menjadi salah satu maha guru dari Syaikh Umar Ibn Ali Ibn Salim
al-Lakhamiy al-Malikiy yang terkenal dengan julukan Tajuddin
al-Fakihaniy. Diantara para raksasa ilmu yang menjadi guru Syaikh Umar
Ibn Ali Ibn al-Fakihaniy adalah:
1. Syaikh Nashiruddin Ibn al-Munayyir al-Malikiy (W. 683 H)
2. Syaikh Ahmad Ibn Idris al-Shanhajiy al-Qarafiy (W. 684 H)
3. Syaikh Taqyuddin Ibn Daqiq al-I’d (W. 702 H)
4. Syaikh Syarafuddin al-Dimyathiy (W. 705 H)
2. Syaikh Ahmad Ibn Idris al-Shanhajiy al-Qarafiy (W. 684 H)
3. Syaikh Taqyuddin Ibn Daqiq al-I’d (W. 702 H)
4. Syaikh Syarafuddin al-Dimyathiy (W. 705 H)
Keistimewaan dan keutamaan shalawat al-Munjiyat adalah:
1. Imam Dinawariy meriwayatkan; pada suatu ketika masyarakat muslim
ditimpa kesusahan atau penyakit menular. Maka mereka kemudian membaca
shalawat al-Munjiyah ini secara bersama-sama dan tidak berapa lama,
masyarakat bebas dari penyakit. Shalawat ini diakui oleh banyak ulama,
mendatangkan sangat banyak manfaat.
2. Syaikh Ali al-Buniy dan Imam al-Jazuliy mengatakan bahwa; “Siapa saja
yang mempunyai hajat, baik hajat dunia, maupun hajat akhirat, bacalah
shalawat ini sebanyak 1.000 kali, sebaiknya di waktu tengah malam, insya
Allah akan dikabulkan hajatnya dengan segera. Shalawat al-Munjiyah
lebih cepat dalam mendatangkan ijabah dari kilat yang menyambar, ia
merupakan eklisir (bahan untuk mengubah logam murah menjadi emas) dan
anti oksin yang mujarrab.”
Imam Umar Ibn Ali al-Lakhamiy al-Fakihaniy al-Malikiy dalam
kitabnya al-Fajrul Munir Fi Shalawat Ala al-Nabiy al-Basyir
al-Nadzir meriwayatkan bahwa: Syaikh Musa al-Dharir, seorang yang shaleh
suatu ketika bercerita: “Aku sedang belayar menggunakan sebuah perahu
besar yang terbuat dari kayu namun tiba-tiba ada angin besar yang
disebut angin al-Iqlabiyyah, jarang sekali orang bisa selamat dari angin
tersebut, sehingga menyebabkan perahu yang aku tumpangi menabrak karang
dan hendak karam. Pada saat itu entah kenapa saya tidak panik seperti
kebanyakan penumpang kapal. Saya malah dikuasai rasa kantuk yang berat.
Antara sadar dan tidak, Rasulullah datang mengajarkan aku shalawat
al-Munjiyah dan beliau berkata: ”Hendaknya orang-orang yang ada di
perahu ini membaca sebanyak 1000 kali. Saya pun terbangun dan membaca di
dalam hati. Saat saya sudah membaca sebanyak 300 kali, maka perahu yang
awalnya mulai oleng hampir tenggelam itu perlahan kembali tegak seperti
biasa dan pelayaran dilanjutkan seperti tidak terjadi bencana apapun.
Imam Muhammad Ibn Ya’qub Fairuz al-Abadiy mengatakan:” Telah mengabarkan
kepadaku Syaikh Hasan Ibn Ali al-Aswaniy bahwa siapa saja yang membaca
shalawat al-Munjiyah sebanyak 1000 kali, maka Allah akan mengabulkan
segala hajatya dan Allah akan hilangkan kesusahan hidupnya.”
Sebagian ulama menyatakan “siapa saja yang membaca shalawat al-Munjiyah
ketika naik kapal laut, maka akan selamat dari bahaya tenggelam. Siapa
saja yang membacanya saat terjadi thaun (wabah), maka ia akan diberikan
perlindungan dan rasa aman. Siapa saja yang membaca sebanyak 500 kali,
maka ia akan mendapat manfaat besar dan hidup dalam kecukupan.
Habib Salim Ibn Hafizh Ibn Syaikh Abi Bakr Ibn Salim mengatakan: “Para
ulama salaf telah mengamalkan amalan yang teruji coba khasiatnya sebagai
mediasi menggapai cita-cita dan menolak segala mushibah diantaranya:
membaca shalawat al-Munjiyah 1000 kali, melakukan ziarah Nabi Hud,
membaca surat Yasin 40 kali, membaca kitab Shahih al-Bukhariy dan
membaca 16.000 kali “Ya Lathif”.
Sebagian orang membaca shalat al-Munjiyah menggunakan lafaz (صَلاَةً
تُنَجِّيْنَا ), lafaz (تُنَجِّيْنَا) adalah bentuk fiil Mudhari’ dari
kata dasar fiil Madhi Mudha’af ( نَجَّى ), sedangkan lafaz
( تُنْجِيْنَا ) fiil Mudhari’ bentukan kata dasar fiil Madhi ( أَنْجَى )
dengan tambahan Hamzah. Lafaz Tunajjina ataupun Tunjina keduanya
merupakan bentuk fiil Mudhari’ dari fiil Madhi Mutaaddiy (butuh kepada
objek) yang memiliki arti menyelamatkan. Jadi bacaan Tunajjina atau
Tunjina jangan diributkan karena keduanya memiliki arti yang sama. Hanya
saja dari berbagai Naskah kumpulan kitab-kitab shalawat yang penulis
miliki, seluruh kitab-kitab tersebut menggunakan lafaz Tunjina. Imam
Muhammad Mahdi al-Fasiy dalam kitab Syarh Dalail al-Khairat, Imam
Muhammad Abdul Aziz al-Jazuliy ar-Rasmukiy dalam kitab Wardah al-Juyub
Fi shalat Ala al-Habib al-Mahbub dan Sayyid Muhammad Ibn Alawiy
al-Malikiy al-Hasaniy dalam kitab beliauSyawariq al-Anwar Min Ad’iyyah
al-Sadah al-Akhyar pun mencatatkan shalawat al-Munjiyah dengan redaksi
“Tunjiina”. Inilah yang menjadi alasan, kenapa penulis dalam buku ini
memilih untuk menyebutkan redaksi (تُنْجِيْنَا) ketimbang redaksi
(تُنَجِّيْنَا ).
Adapun sanad yang penulis dapatkan sebagai berikut:
احمد بن احمد بن محمد الحسني عن العلامة السيد أحمد بن أبي بكر بن أحمد
الحبشي عن العلامة محدث الحرمين أبو حفص عمر بن حمدان المحرسي التونسي
المالكي عن أحمد بن اسماعيل البرزنجي المدني عن السيد أحمد بن زيني دحلان
المكي عن الشيخ عثمان بن حسن الدمياطي عن الشيخ عبد المنعم بن أحمد العمادي
الأزهري عن الشيخ محمد بن عيسى الدفري عن الشيخ سالم بن عبد الله بن سالم
البصري المكي عن والده عن المسند محمد بن سليمان الرداني والشيخ محمد بن
علاء الدين البابلي عن العلامة شمس الدين محمد السخاوي عن ابن ظهيرة عن
جمال الدين ابن عتيق بن حديدة الانصاري عن ابن الفاكهاني اللخمي عن الصالح
موسى الضرير رضي الله تعالى عنه .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar